Hilangnya Nestapa Ditelan Mangata

Hilangnya Nestapa Ditelan Mangata


Wahai Semesta, pemilik senja dan airmata

Ada hati yang sedang riuh bertanya

Perihal sosok diujung samudra

Dibawah ufuk cakrawala

Genggamannya sangat erat

Rona wajahnya begitu memikat

Memberikan kenyamanan tanpa sekat

Bahkan dekat, semua makhluk akan merapat


Wahai semesta, penyembuh dan pemberi luka

Menikmati setiap lekukan mangata

Bak jembatan rindu pada tuannya

Bagi siapapun yang datang menikmatinya

Bayangan jingganya adalah obat

Penyembuh luka yang hebat

Bahkan siap memeluk rekat

Menjadi tempat yang tepat

Bersandar dan bercerita rasa penat



Terjebak Renjana


Wahai hati…

Seberapa pun berusaha

Tetap saja percuma

Seberat apapun mencoba

Bayanganya selalu ada

Sekuat apapun berpaling

Suaranya semakin melengking

Bahkan terus menjadi-jadi

Tak pernah berhenti untuk berlari 

menyusuri setiap sudut memori ini


tahukah hati? 

Sampai aku bingung

Bak gadis manis yang linglung

Langkah gontai menerawang udara

menatap langit hingga cakrawala

ukiran  wajahnya yang sempurna

terbayang indah dengan senyumannya

alis tebalnya yang mempesona

membuat candu siapapun yang melihatnya

rambutnya yang tidak rapi

menjadi pemandangan sejuta umat

sayangnya, bayangan itu melekat dengan pekat


wahai hati….

Bolehkah ku tanyakan padamu?

perasaan macam apa ini?

Hingga tiba saatnya

Waktu dimana aku tahu

Itulah yang dinamakan rindu

Ingin rasanya memelukmu

Lalu mengadu, bahwa aku tak lagi mampu 

Terjebak dalam rasa rindu 



Tatkala Bintang Redup


Hari ini bintang gagal

Gagal menampakan diri dihadapan bulan

Bahwa bintang layak bersanding

Bukan hanya memandang

Tetapi saling menggegam


Ternyata seperti ini rasanya

Sesak membucah di dada

Sakit dan kecewa

Bercampur aduk membentuk luka


Gelombang asmara yang bersembunyi

Enggan untuk mengintip lagi

Entah istirahat atau berhenti

Bintang butuh cahaya untuk mengobati

Butuh awan untuk bersandar

Dan butuh langit untuk bercerita


Tetapi matahari membuat bintang sadar

Bahwa bulan hanya akan hadir

Ketika bintang mampu bangkit berdiri

Bersama dengan ketentuan takdir

Bahwa semesta merestui


Seperti halnya saat ini

Di malam hari dengan angin semilir

Bintang dan bulan saling bertatapan

Tampak manis dan menawan 

Hingga tak sadar pernah dikecewakan

Bahkan lelah dan hampir menyerah

Tetapi semua terbayar begitu indah

"


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencintai Dalam Diam

Penulis Skenario

AYAH