NESTAPA

NESTAPA

 "Penulis : Wisnu Aji Saputra 



Hari begitu cepat menikam sang waktu 

Rasa tiada hentinya memaki, membunuh kalbu. 

Rasa getir yang mendominasi kalbu, meninggalkan sendu. 

Merasa bodoh, terdiam bisu

Kini terpaku malu akan diri 

Tersudut akan rasa kecewa. 

Dalam, dalamnya hati tertusuk paku nestapa

Rinai hujan terus berlanjut membentuk melodi 

Mengiringi sendu yang mendarah daging. 

Pucatnya kapur, menggambarkan hati risau. 

Nirmala, diri ini mengharap. 

Tiada ujung puncak nestapa ini. 



PULANG

Penulis : Wisnu Aji Saputra


Bisingnya jalanan kota 

Insan tuhan bersorak riuh, mempertahankan harga dirinya. 

Lalu, berlalu waktu ini 

Tangis, teriak anak rantau ini 

Terucap kata pulang, iya pulang 

Rasa ambigu yang besar masih tertanam di diri

Menetap atau pulang, pikiran itu terus muncul di benak

Teringat sesuatu dirumah, tanggung jawab besar menanti

Pikiran serasa didalam bui, tiada yang mau keluar. 

Bodohnya insan ini, menikmati fananya hidup. 

Derai air hujan melewati jendela, arti perjalanan panjang kedepan. 

Kini tau, hati masih ingin menetap

Tanpa harus berpikir pulang dan pergi. 



RELA

Nama : Wisnu Aji Saputra


Jejaka sudah diri ini

Melihat sudut pandang terdalam 

Merangkul masalah diri 

Menekankan batin kalbu. 

Rela... 

Rela dengan semua kebohongan diri

Rela tersungkur jatuh pedih 

Kini tau, akan hidup 

Menjadi jenaka bagi insan lain

Tanpa berpikir akan diri 

Terima caci maki batin ini 

Tiada peduli beratnya hati

Menahan rahsa lara

Dengan segala pemikiran yang pupus. "


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencintai Dalam Diam

Penulis Skenario

AYAH